Wisnu Salman: Smelter Harus Serap Bijih Nikel Kadar Rendah

Wisnu Salman: Smelter Harus Serap Bijih Nikel Kadar Rendah
Dokumentasi: Nikel Indonesia (3 November 2026)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Tambang UKM dan Koperasi Indonesia, Wisnu Salman, mendorong pemerintah memastikan seluruh jenis bijih nikel, baik berkadar tinggi maupun rendah, mendapatkan fasilitas pengolahan dan pemurnian melalui smelter. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan produksi dan usaha pertambangan nikel nasional.

Menurut Wisnu, pengembangan industri smelter nikel tidak boleh hanya berorientasi pada pengolahan bijih berkualitas tinggi. Pasalnya, masih terdapat bijih nikel berkadar rendah yang belum dapat terserap secara optimal oleh fasilitas pengolahan yang tersedia.

“Produk-produk nikel, baik yang rendah kualitasnya maupun yang tinggi, harus tetap ada pengolahannya. Kebijakan pemerintah harus bisa mengakomodasi persoalan pertambangan nikel agar para penambang tetap bisa berproduksi dan usahanya tetap hidup,” ujar Wisnu ketika diwawancara Nikel.co.id, di sela-sela Minerba Convex 2026 JIExpo Kemayoran Jakarta, Senin (2/11/2026). 

Ia menilai, keberadaan smelter yang mampu mengolah berbagai karakteristik bijih nikel menjadi kebutuhan penting, terutama bagi pelaku usaha pertambangan skala kecil dan koperasi. Dengan demikian, potensi sumber daya nikel dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan tidak menyisakan material tambang yang sulit dipasarkan.

Selain persoalan penyerapan bijih, Wisnu juga mendukung langkah pemerintah mempercepat hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir (end product), bukan hanya produk antara (intermediate).

Menurutnya, hilirisasi merupakan strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat industri nasional.

“Memang harus begitu. Hilirisasi itu tujuannya menghasilkan produk akhir. Kalau sebelumnya sekitar 30 persen, sekarang harus menuju produk akhir. Hilirisasi merupakan hal yang mutlak diwujudkan karena tidak mungkin ada negara maju tanpa hilirisasi,” tegasnya.

Wisnu mengapresiasi upaya pemerintah memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga melalui Kementerian Koordinator Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral serta Investasi dan Hilirisasi untuk mempercepat pencapaian target tersebut.

Ia juga menilai pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, termasuk pengembangan smelter nikel kelas II, menjadi bagian dari strategi memperluas kapasitas industri hilir.

Menurut Wisnu, peningkatan investasi industri otomotif dan baterai di Indonesia juga menjadi sinyal positif bagi pengembangan rantai pasok mineral nasional. Kehadiran perusahaan global yang membangun fasilitas produksi di dalam negeri dinilai dapat memperkuat arah kebijakan hilirisasi menuju produk bernilai tambah lebih tinggi.

“Dengan adanya pabrikasi dari perusahaan otomotif dan baterai yang membangun pabrik di Indonesia, itu menunjukkan ada arah menuju hilirisasi 100 persen,” ungkapnya. Ia berharap kebijakan pemerintah ke depan tidak hanya mendorong pembangunan industri hilir, tetapi juga memastikan keterlibatan seluruh pelaku usaha pertambangan, termasuk penambang skala kecil dan koperasi, dalam rantai pasok industri nikel nasional. (Shiddiq)